Kamis, 15 Mei 2014

tugas 3 : Pengambilan keputusan dalam organisasi

PENGAMBILAN KEPUTUSAN DALAM ORGANISASI


1.      Definisi pengambilan keputusan
Setiap saat manusia dihadapkan pada keadaan untuk mengambil keputusan. Setelah kamu bangun pagi saja kamu dihadapkan pada suatu keputusan. Berdasarkan uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa keputusan adalah pilihan yang diambil dari berbagai macam pilihan untuk dilaksanakan. Dalam mengambil keputusan tentu berdasarkan pertimbangan-pertimbangan yang matang. Keputusan yang diambil dijadikan sebagai dasar dalam menentukan langkah-langkah selanjutnya. Proses pengambilan keputusan pada dasarnya terletak pada pengetahuan yang sangat akurat dan berbeda.beda. Hal tersebut bergantung pada permasalahannya. Dengan kata lain, untuk mengambil keputusan perlu manajemen yang baik. Pengambilan keputusannya hubungannya yang utama adalah komunikasi.
Menurut Lipman, pengambilan keputusan adalah sebuah proses untuk memecahkan masalah melalui sebuah system yang dirancang melalui pilihan dari beberapa alternative jawaban yang sudah disusun berdasarkan system keluaran. Dalam arti umum, definisi pengambilan keputusan adalah suatu proses yang dilakukan manusia untuk mempertahankan kelangsungan organisasi berkaitan dengan memecahkan permasalahan yang timbul di dalamnya melalui pencarian jawaban yang paling tepat mengenai masalah tersebut

2.      Dasar-dasar pengambilan keputusan
a.      Intuisi, Pengambilan keputusan berdasarkan intuisi adalah pengambilan keputusan  yang berdasarkan perasaan yang sifatnya subyektif.  Dalam pengambilan keputusan berdasarkan intusi ini, meski waktu yang digunakan untuk mengambil keputusan relatif pendek, tetapi keputusan yang dihasilkan seringkali relatif  kurang baik karena seringkali mengabaikan dasar-dasar pertimbangan lainnya.
b.      Pengalaman, Pengambilan keputusan berdasarkan pengalaman memiliki manfaat bagi pengetahuan praktis, karena dengan pengalaman yang dimiliki seseorang, maka dapat memperkirakan keadaan sesuatu, dapat memperhitungkan untung-ruginya dan baik-buruknya keputusan yang akan dihasilkan.
c.       Wewenang, Pengambilan keputusan berdasarkan wewenang biasanya dilakukan oleh pimpinan terhadap bawahannya, atau oleh orang yang lebih tinggi kedudukannya kepada orang yang lebih rendah kedudukannya. Hasil keputusannya dapat bertahan dalam jangka waktu yang cukup lama dan memiliki otentisitas (otentik),  tetapi  dapat menimbulkan sifat rutinitas, mengasosiasikan dengan praktek diktatorial dan sering melewati permasalahan yang seharusnya dipecahkan sehingga dapat menimbulkan kekaburan.
d.      Fakta, Pengambilan keputusan berdasarkan data dan fakta empiris dapat memberikan keputusan yang sehat, solid dan baik. Dengan fakta, tingkat kepercayaan terhadap pengambil keputusan dapat lebih tinggi, sehingga orang dapat menerima keputusan yang dibuat itu dengan rela dan lapang dada.
e.       Rasional, Pada pengambilan keputusan yang berdasarkan rasio, keputusan yang dihasilkan bersifat objektif, logis, lebih transparan dan konsisten untuk memaksimumkan hasil atau nilai dalam batas kendala tertentu, sehingga dapat dikatakan mendekati kebenaran atau sesuai dengan apa yang diinginkan. Pengambilan keputusan secara rasional ini berlaku sepenuhnya dalam keadaan yang ideal.

3.      Jenis-jenis keputusan organisasi
Jenis keputusan dalam sebuah organisasi dapat digolongkan berdasarkan banyaknya waktu yang diperlukan untuk mengambil keputusan tersebut, bagian mana organisasi harus dapat melibatkan dalam mengambil keputusan dan pada bagian organisasi mana keputusan tersebut difokuskan.
Secara garis besar jenis keputusan terbagi menjadi dua bagian yaitu :
·         Keputusan Rutin
Keputusan Rutin adalah Keputusan yang sifatnya rutin dan berulang-ulang serta biasanya telah dikembangkan untuk mengendalikannya.
·         Keputusan tidak Rutin
Keputusan tidak Rutin adalah Keputusan yang diambil pada saat-saat khusus dan tidak bersifat rutin.

4.      Faktor-faktor yang mempengaruhi pengambilan keputusan?
·         POSISI/KEDUDUKAN
Dalam kerangka pengambilan keputusan, posisi/kedudukan seseorang dapat dilihat dalam hal berikut.
      Letak posisi; dalam hal ini apakah is sebagai pembuat keputusan (decision maker), penentu keputusan (decision taker) ataukah staf (staffer).
      Tingkatan posisi; dalam hal ini apakah sebagai strategi, policy, peraturan, organisasional, operasional, teknis.
·         MASALAH
Masalah atau problem adalah apa yang menjadi peng-halang untuk tercapainya tujuan, yang merupakan penyimpangan daripada apa yang diharapkan, direncanakan atau dikehendaki dan harus diselesaikan.
·         SITUASI
Situasi adalah keseluruhan faktor-faktor dalam keadaan, yang berkaitan satu sama lain, dan yang secara bersama-sama memancarkan pengaruh terhadap kita beserta apa yang hendak kita perbuat.
      Faktor-faktor itu dapat dibedakan atas dua, yaitu sebagai berikut.
§  Faktor-faktor yang konstan (C), yaitu faktor-faktor yang sifatnya tidak berubah-ubah atau tetap keadaanya.
§  Faktor-faktor yang tidak konstan, atau variabel (V), yaitu faktor-faktor yang sifatnya selalu berubah-ubah, tidak tetap keadaannya.
·         KONDISI
Kondisi adalah keseluruhan dari faktor-faktor yang secara bersama-sama menentukan daya gerak, daya ber-buat atau kemampuan kita. Sebagian besar faktor-faktor tersebut merupakan sumber daya-sumber daya.
·         TUJUAN
Tujuan yang hendak dicapai, baik tujuan perorangan, tujuan unit (kesatuan), tujuan organisasi, maupun tujuan usaha, pada umumnya telah tertentu/ telah ditentukan. Tujuan yang ditentukan dalam pengambilan keputusan merupakan tujuan antara atau objective.

5.      Implikasi(Bahas satu metode pengambilan keputusan dan buatlah contoh kasus).
Elementary Methods (Metode dasar)
Metode pendekatan ini sangat simple, dan membutuhkan perhitungan untuk mendukung analisis. Metode ini sesuai untuk keadaan di mana masalah hanya diselesaikan oleh satu orang saja, alternatif yang terbatas dan ada karakter yang unik di lingkungan pembuatan keputusan.

Contoh Kasus :
Dalam sebuah kehidupan manusia banyak sekali hal-hal yang diperlukan dengan pengambilan keputusan yang tepat dalam  Elementary Methods(metode dasar), contoh saat setiap orang pergi ke mall dan mereka mampir ke toko baju disana banyak sekali pilihan baju dan disaat itulah setiap orang akan mengambil keputusan baju yang mana yang ingin dibeli dengan metode ini cukup dengan diri sendiri yang yang mengambil keputusan.

Referensi :
1.      Lipman, J.M dan Ranklin, R.E,.(1985). The Principal Concepts, Competencies, and Cases. New York : Longman
2.      Rumanti, Sr.Maria Assumpta OSF.(2002). Dasar-dasar Public Relations. PT Grasindo
3.      Suwanto, Chris Subagya. (2009). Ayo Belajar – Pendidikan Kewarganegaraan. Kanisius

Selasa, 15 April 2014

Tugas 2 : Kepemimpinan


A. Arti Penting Kepemimpinan

            Kepemimpinan dan manajemen adalah dua istilah yang acap kali membingungkan. Apakah perbedaan diantara keduanya ?
            John Kotter dari Harvard Business School menyatakan bahwa manajemen terkait dengan usaha untuk menangani kompleksitas. Manajemen yang baik menghasilkan keteraturan dan konsistensi dengan cara mempersiapkan rencana formal, merancang struktur organisasi yang kuat, dan memonitor hasil berdasarkan rencana. Sebaliknya, kepemimpinan berkaitan dengan perubahan. Pemimpin menentukan arah dengan cara mengembangkan suatu visi masa depan; kemudian, mereka menyatukan orang-orang dengan mengkomunikasikan visi ini dan menginspirasi mereka untuk mengatasi berbagai rintangan.
            Kita dapat mendefinisikan kepemimpinan (leadership) sebagai kemampuan untuk mempengaruhi suatu kelompok guna mencapai sebuah visi atau serangkaian tujuan yang ditetapkan. Sumber pengaruh ini bisa jadi bersifat formal, seperti yang diberikan oleh pemangku jabatan menejerial dalam sebuah organisasi. [1]
            Terdapat definisi lain pula mengenai kepemimpinan, yaitu merupakan suatu cara bagaimana seorang pemimpin mempengaruhi, mengarahkan, memotivasi, dan mengendalikan bawahannya dengan cara-cara tertentu, sehingga bawahan dapat menyelesaikan tugas pekerjaannya secara efektif dan efisien.
            Dalam dunia bisnis, penerapan gaya kepemimpinan (leadership style) seseorang akan dapat mempengaruhi sikap dan prilaku bawahannya dalam melakukan pekerjaan mereka. Kepemimpinan dalam suatu organisasi terjadi karena adanya interaksi antara tiga komponen penting, yaitu manajer, karyawan, dan situasi atau kondisi lingkungan kerja tertentu.[2]

B. Tipologi Kepemimpinan

            Dalam prakteknya terdapat tipe-tipe kepemimpinan di antaranya adalah sebagian berikut :

1. Tipe Otokratis.
Ciri dari tipe otokratis : Menganggap organisasi sebagai pemilik pribadi, Mengidentikkan tujuan pribadi dengan tujuan organisasi, Menganggap bawahan sebagai alat semata-mata, Tidak mau menerima kritik, saran dan pendapat, Terlalu tergantung kepada kekuasaan formalnya, Dalam tindakan pengge-rakkannya sering mempergunakan pendekatan yang mengandung unsur paksaan dan bersifat menghukum.

2. Tipe Militeristis
Seorang pemimpin yang bertipe militeristis ialah seorang pemimpin yang memiliki sifat-sifat berikut : Dalam menggerakan bawahan sistem perintah yang lebih sering dipergunakan, Dalam menggerakkan bawahan senang bergantung kepada pangkat dan jabatannya, Senang pada formalitas yang berlebih-lebihan, Menuntut disiplin yang tinggi dan kaku dari bawahan, Sukar menerima kritikan dari bawahannya, Menggemari upacara-upacara untuk berbagai keadaan.

3. Tipe Paternalistis.
Ciri seorang dengan tipe paternalistis : menganggap bawahannya sebagai manusia yang tidak dewasa, bersikap terlalu melindungi (overly protective), jarang memberikan kesempatan kepada bawahannya untuk mengambil keputusan, jarang memberikan kesempatan kepada bawahannya untuk mengambil inisiatif, jarang memberikan kesempatan kepada bawahannya untuk mengembangkan daya kreasi dan fantasinya, dan sering bersikap maha tahu.

4. Tipe Karismatik.
Hingga sekarang ini para ahli belum berhasil menemukan sebab-sebab mengapa seseorang pemimpin memiliki karisma. Umumnya diketahui bahwa pemimpin yang demikian mempunyai daya tarik yang amat besar dan karenanya pada umumnya mempunyai pengikut yang jumlahnya sangat besar, meskipun para pengikut itu sering pula tidak dapat menjelaskan mengapa mereka menjadi pengikut pemimpin itu. Karena kurangnya pengetahuan tentang sebab musabab seseorang menjadi pemimpin yang karismatik, maka sering hanya dikatakan bahwa pemimpin yang demikian diberkahi dengan kekuatan gaib (supra natural powers).

5. Tipe Demokratis.
Pengetahuan tentang kepemimpinan telah membuktikan bahwa tipe pemimpin yang demokratislah yang paling tepat untuk organisasi modern. Hal ini terjadi karena tipe kepemimpinan ini memiliki karakteristik sebagai berikut : dalam proses penggerakan bawahan selalu bertitik tolak dari pendapat bahwa manusia itu adalah makhluk yang termulia di dunia, selalu berusaha mensinkronisasikan kepentingan dan tujuan organisasi dengan kepentingan dan tujuan pribadi dari pada bawahannya, senang menerima saran, pendapat, dan bahkan kritik dari bawahannya, selalu berusaha mengutamakan kerjasama dan teamwork dalam usaha mencapai tujuan, ikhlas memberikan kebebasan yang seluas-luasnya kepada bawahannya untuk berbuat kesalahan yang kemudian diperbaiki agar bawahan itu tidak lagi berbuat kesalahan yang sama, tetapi lebih berani untuk berbuat kesalahan yang lain, selalu berusaha untuk menjadikan bawahannya lebih sukses daripadanya, dan berusaha mengembangkan kapasitas diri pribadinya sebagai pemimpin.

       Bila dilihat dari tipe-tipe kepemimpinan di atas, pasti kita mengidamkan pemimpin dengan tipe kepemimpinan yang demokratis. Dengan kepemimpinan demokratis selalu ingin maju dengan jalan yang baik, dalam artian bahwa setiap mengambil langkah maju dipertimbangkan segala aspek yang menyangkut langkah yang diambilnya. Oleh karena itu tipe kepemimpinan inilah yang selalu lebih banyak sukses dan maju dibandingkan tipe kepemimpinan lainnya.[3]

C. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kepemimpinan

            Faktor-faktor yang mempengaruhi efektivitas kepemimpinan adalah sebagai berikut :
1.      Kepribadian, pengalaman masa lampau dan harapan pemimpin
2.      Harapan dan prilaku atasan
3.      Kebutuhan tugas
4.      Karakteristik, pengharapan dan perilaku bawahan
5.      Iklim dan kebijaksanaan organisasi
6.      Harapan dan perilaku rekan

Semua faktor ini mempengaruhi pemimpin dalam melakukan fungsi-fungsi kepemimpinan.[4]

D. Implikasi Manajerial Kepemimpinan dalam Organisasi

            Beberapa implikasi manajerial yang dapat diberikan sebagai masukan bagi kemajuan organisasi :
a.  Hal pertama yang harus dipahami bahwa setidaknya pemimpin memahami konsep kepemimpinan sesuai dengan kondisi organisasi dan orang-orang yang berada di bawahnya. Guna memperlancar kegiatan dalam organisasi.
b.  Berdasarkan tipe-tipe kepemimpinan yang ada, sebaiknya pemimpin menyadari bagaimana cara ia memimpin, apakah baik untuk organisasi atau tidak. Hal ini dapat mempengaruhi kemajuan organisasi ke depannya.
c. Yang tidak luput dari kepemimpinan yaitu faktor apa saja yang mempengaruhi kepemimpinan tersebut. Bila faktor tersebut sudah ada sejak kecil atau merupakan bakat, maka kepemimpinan itu terus diasah dan dikembangkan. Atau bila faktor tersebut baru dibentuk pada saat menghadapi kondisi yang mengharuskan memiliki jiwa kepemimpinan, maka bentuklah kepemimpinan tersebut sesuai dengan kondisi yang terjadi.[3]

Referensi :
1.      Stephen P. Robins & Timothy A. Judge. 2008. Perilaku Organisasi Edisi 12 Buku 2. Penerbit Salemba Empat : Jakarta.
2.      Djoko Purwanto. 2006. Komunikasi Bisnis Edisi 3. Penerbit Erlangga : Jakarta
4.      Yayat M. Herujito. 2001. Dasar-Dasar Manajemen. Penerbit Grasindo : Jakarta

Senin, 17 Maret 2014

Tugas 1 : PERAN KOMUNIKASI DALAM ORGANISASI


Pengertian dan Arti Penting Komunikasi
Komunikasi mengandung makna bersama-sama (common). Istilah komunikasi atau communication berasal dari bahasa Latin, yaitu communicatio yang berarti pemberitahuan atau pertukaran. Kata sifatnya communis, yang bermakna umum atau bersama-sama. ( hal. 5 ) 1
Para ahli mendefinisikan komunikasi menurut sudut pandang mereka masing-masing, diantaranya adalah :
1.      Sarah Trenholm dan Arthur Jensen mendefiniskan bahwa komunikasi adalah suatu proses dimana sumber mentransmisikan pesan kepada penerima melalui berbagai macam saluran.
2.      Reymond S. Ross mendefinisikan komunikasi sebagai suatu proses menyortir, memilih, dan mengirimkan symbol-simbol sedemikian rupa, sehingga membantu pendengar membangkitkan makna atau respons dari pikirannya yang serupa dengan yang dimaksudkan oleh sang komunikator
3.      Everett M. Rogers dan Lawrence Kincaid menyatakan bahwa komunikasi adalah suatu proses dimana dua orang atau lebih membentuk atau melakukan pertukaran informasi antara satu sama lain,yang pada gilirannya terjadi saling pengertian yang mendalam. ( Hal. 6 ) 1
Definisi-definsi diatas tentu belum mewakili semua definisi yang telah dibuat oleh para ahli. Namun, paling tidak kita telah memperoleh gambaran tentang apa yang dimaksud komunikasi, sebagaimana yang diungkapkan oleh Shannon dan Weaver (1949), bahwa komunikasi adalah bentuk interaksi manusia yang saling mempengaruhi satu sama lain, sengaja atau tidak sengaja dan tidak terbatas pada bentuk komunikasi verbal, tetapi juga dalam hal ekspresi muka, lukisan, seni, dan teknologi. ( Hal. 7 )1
Jenis dan Proses Komunikasi
Jenis-jenis komunikasi dibagi berdasarkan berbagai macam kategori, yaitu :
·         Menurut cara penyampaian informasi dapat dibedakan menjadi :
1.      Komunikasi Lisan
a.       yang terjadi secara langsung dan tidak dibatasi oleh jarak, dimana dua belah pihak dapat bertatap muka, misalnya dialog dua orang, wawancara, maupun rapat dan sebagainya
b.      yang terjadi secara tidak langsung karena dibatasi oleh jarak, misalnya komunikasi lewat telepon.
2.      Komunikasi Tertulis
a.       yang dilaksanakan dalam bentuk surat
b.      naskah,
c.       blangko-blangko,
d.      gambar dan foto,
e.       spanduk ( Hal. 20 ) 2
·         Berdasarkan terjadinya interaksi dua belah pihak, yaitu :
1.      Komunikasi Langsung
Proses komunikasinya dilaksanakan secara langsung tanpa bantuan perantara orang ketiga ataupun media komunikasi yang ada dan tidak dibatasi oleh jarak.
2.      Komunikasi Tidak Langsung
Proses komunikasinya dilaksanakan dengan bantuan pihak ketiga atau bantuan alat-alat atau media komunikasi.
·         Menurut prilaku, komunikasi dibedakan menjadi :
1.      Komunikasi Formal
Komunikasi yang terjadi diantara anggota organisasi / perusahaan yang tata caranya telah diatur dalam struktur organisasinya, misalnya rapat kerja perusahaan, konferensi, seminar, dan sebagainya.
2.      Komunikasi Informal
Komunikasi yang terjadi di dalam suatu organisasi atau perusahaan yang tidak ditentukan dalam struktur organisasi dan tidak mendapat pengakuan resmi yang mungkin tidak berpengaruh terhadap kepentingan organisasi atau perusahaan, misalnya kabal burung, desas-desus, dan sebagainya.
3.      Komunikasi Non Formal
Komunikasi yang terjadi antara komunikasi yang bersifat formal da informal, yaitu komunikasi yang berhubungan dengan pelaksanaan tugas pekerjaan organisasi atau perusahaan dengan kegiatan yang bersifat pribadi anggota organisasi atau perusahaan tersebut, misalnya rapat tentang ulang tahun perusahaan, dab sebagainya. ( Hal. 21 ) 2
·         Menurut ruang lingkup, dibedakan menjadi :
1.      Komunikasi Internal
Komunikasi yang berlangsung dalam ruang lingkup atau lingkungan organisasi atau perusahaan yang terjadi diantara anggota organisasi atau perusahaan tersebut saja.
2.      Komunikasi Eksternal
Komunikasi yang berlangsung antara organisasi atau perusahaan dengan pihak masyarakat yang ada di luar organisasi atau perusahaan tersebut
·         Menurut aliran informasi, dibedakan menjadi :
1.      Komunikasi Satu Arah ( Simplex )
Komunikasi yang berlangsung dari satu pihak saja. Pada umumnya komunikasi ini terjadi dalam keadaan mendesa atau darurat atau yang terjadi karena sistem yang mengaturnya harus demikian, misalnya untuk menjaga kerahasiaan atau menjaga kewibawaan pimpinan.
2.      Komunikasi Dua Arah
Komunikasi yang bersifat timbal balik. Dalam hal ini komunikasi diberi kesempatan untuk memberikan respons atau feedback kepada komunikatornya. Maka komunikasi ini memberika kepuasan kedua belah pihak dan dapat menghindarkan terjadinya kesalah pahaman.
3.      Komunikasi ke Atas
Komunikasi yang terjadi dari bawahan kepada atasan
4.      Komunikasi ke Bawah
Komunikasi yang terjadi dari atasan ke bawahan ( Hal 22 – 24 ) 2
·         Menurut jumlah yang berkomunikasi, dibedakan menjadi :
1.      Komunikasi perseorangan
Komunikasi yang terjadi secara perseorangan atau individual antara pribadi dengan pribadi tentang permasalahan yang bersifat pribadi juga
2.      Komunikasi berkelompok
Komunikasi yang berlangsung dalam suatu kelompok atau group tentang masalah-masalah yang menyangkut kepentingan banyak orang dalam kelompok. ( Hal 25 – 26 )  2
Proses Komunikasi
Proses komunikasi diawali dengan komunikator yang menyampaikan pesan dan diakhiri dengan komunikan yang menerima pesan. Sebagai suatu proses, komunikasi tidak mempunyai titik awal atau titik akhir. Proses komunikasi berlangsung dalam keadaan dinamik, berkelanjutan, berubah-ubah, on going tanpa starting point atau stopping point. Agar peristiwa komunikasi itu mudah dipelajari, kita sengaja menciptakan titik awal dan titik akhir. Untuk menganalisis dinamika proses komunikasi, maka dilakukan pemenggalan proses yang telah dihentikan tersebut. Kebanyakan pada studi komunikasi, penyederhanaan tersebut diawali dari komunikator (source) yang menyampaikan pesan (message) melalui saluran (channel) kepada komunikan (receiver) sampai komunikasi menimbulkan perubahan (effect) pada komunikan. Penggalan proses ini dinyatakan dalam suatu model S-M-C-R-E.
Komunikasi Efektif
Berkomunikasi efektif berarti bahwa komunikator dan komunikan sama-sama memiliki pengertian yang sama tentang suatu pesan. Oleh karena itu, dalam bahasa asing orang menyebutnya “the communication is in tune” ,yaitu kedua belah pihak yang berkomunikasi sama-sama mengerti apa pesan yang disampaikan. Menurut Jalaluddin dalam bukunya Psikologi Komunikasi menyebutkan, komunikasi yang efektif ditandai dengan adanya pengertian, dapat menimbulkan kesenangan, mempengaruhi sikap, meningkatkan hubungan sosial yang baik, dan pada akhirnya menimbulkan suatu tidakan. 3
Syarat-syarat untuk berkomunikasi secara efektif adalah antara lain :
·         Menciptakan suasana yang menguntungkan.
·         menggunakan bahasa yang mudah ditangkap dan dimengerti.
·         pesan yang disampaikan dapat menggugah perhatian atau minat di pihak komunikan.
·         Pesan dapat menggugah kepentingan dipihak komunikan yang dapat menguntungkannya.
·         Pesan dapat menumbuhkan sesuatu penghargaan atau reward di pihk komunikan.
Berbicara tentang minat atau awareness di pihak komunikan, dapat dikemukakan bahwa minat akan timbul bilamana ada unsure-unsur sebagai berikut :
·         Tersedianya suatu hal yang menarik minat.
·         Terdapat kontras, yaitu perbedaan antara hal yang satu dengan lainnya, sehingga apa yang menonjol itu menumbuhkan perhatian.
·         Terdapat harapan untuk mendapat keuntungan atau mungkin gangguan dari hal yang dimaksudkan.
·         Itulah beberapa hal saja yang dapat menimbulkan sesuatu komunikasi yang efektif.
Komunikasi efektif dipandang sebagai suatu hal yang penting dan kompleks. Dianggap penting karena ragam dinamika kehidupan (bisnis, politik, misalnya) yang terjadi biasanya menghadirkan situasi kritis yang perlu penanganan secara tepat, munculnya kecenderungan untuk tergantung pada teknologi komunikasi, serta beragam kepentingan yang ikut muncul.4
Implikasi Menejerial
Dalam komunikasi manajerial ada 5 tipe yaitu :
·         Komunikasi formal (Formal Communication), yang mengikuti rantai perintah organisasi formal.
·         Komunikasi informal (Informal Communication), yang digunakan menejer untuk melengkapi komunikasi formal. Mereka melakukannya dengan jalan menyelidiki bagaimana kelompok informal bekerja dalam organisasi yang bersangkutan.
·         Komunikasi non-formal (Informal Communication), komunikasi ini disebabkan oleh ketidaksengajaan daripada organisasi formal yang menyebabkan terjadinya tindakan secara tidak sengaja. Komunikasi ini bersifat efektif.
·         Komunikasi teknis (Technical Communication), digunakan oleh orang-orang yang bekerja dalam bidang yang sama.
·         Komunikasi tentang prosedur-prosedur dan peraturan-peraturan (Procedural and Rules Communication), komunikasi ini biasanya dalam bentuk buku pegangan (manual) tentang organisasi yang bersangkutan.
Jadi implikasi manajerial merupakan pengambilan keputusan yang dilakukan oleh manajer dari hasil komunikasi untuk mencapai tujuan organisasi. ( Hal. 357 ) 5
DAFTAR PUSTAKA
1.        Wiryanto.2004.Pengantar ilmu komunikasi.Jakarta: Gramedia Widiasarana Indonesia.
2.        http://elearning.gunadarma.ac.id/docmodul/komunikasi_bisnis/bab2-macam_macam_komunikasi.pdf. Diakses pada Senin, 17 Maret 2014 pukul 19.05.
3.        Edo Parnando, Komunikasi Efektif http://edoparnando27.wordpress.com/komunikasi-efetif/ . Diakses pada Senin, 17 Maret 2014 Pukul 20:28
4.    Zainuddin Zakaria.Komunikasi Efektif.Kuala Lumpur: PTS Profesional Malaysia.
5.    George R.Terry. Ph.D. , ed: Dr. Winardi. S.E. , Asas-Asas Menejemen.




Selasa, 28 Januari 2014

Kasus 4 : Bank Seruni Indonesia

TEORI KEPEMIMPINAN

A. Definisi Kepemimpinan
Kepemimpinan tampaknya lebih merupakan konsep yang berdasarkan pengalaman. Kepemimpinan adalah sebuah hubungan yang saling mempengaruhi di antara pemimpin dan pengikut (bawahan) yang menginginkan perubahan nyata yang mencerminkan tujuan bersamanya (Joseph C. Rost.,1993).

B. Teori-teori Kepemimpinan

1. Teori orang-orang terkemuka
Bernard, Bingham, Tead dan Kilbourne menerangkan kepemimpinan berkenaan dengan sifat-sifat dasar kepribadian dan karakter.

2. Teori lingkungan
Mumtord, menyatakan bahwa pemimpin muncul oleh kemampuan dan keterampilan yang memungkinkan dia memecahkan masalah sosial dalam keadaan tertekan, perubahan dan adaptasi. Sedangkan Murphy, menyatakan kepemimpinan tidak terletak dalam dari individu melainkan merupakan fungsi dari suatu peristiwa.

3. Teori personal situasional
Case (1933) menyatakan bahwa kepemimpinan dihasilkan dari rangkaian tiga faktor, yaitu sifat kepribadian pemimpin, sifat dasar kelompok dan anggotanya serta peristiwa yang diharapkan kepada kelompok.

4. Teori interaksi harapan
Homan (1950) menyatakan semakin tinggi kedudukan individu dalam kelompok maka aktivitasnya semakin meluas dan semakin banyak anggota kelompok yang berhasil diajak berinteraksi.

5. Teori humanistik
Likert (1961) menyatakan bahwa kepemimpinan merupakan proses yang saling berhubungan dimana seseorang pemimpin harus memperhitungkan harapan-harapan, nilai-nilai dan keterampilan individual dari mereka yang terlibat dalam interaksi yang berlangsung.

6. Teori pertukaran
Blau (1964) menyatakan pengangkatan seseorang anggota untuk menempati status yang cukup tinggi merupakan manfaat yang besar bagi dirinya. Pemimpin cenderung akan kehilangan kekuasaaanya bila para anggota tidak lagi sepenuh hati melaksanakan segala kewajibannya.

C. Tipe-tipe Kepemimpinan
1.Tipe Otokratis
Ciri-cirinya antara lain:
a. Mengandalkan kepada kekuatan / kekuasaan
b. Menganggap dirinya paling berkuasa
c. Keras dalam mempertahankan prinsip
d. Jauh dari para bawahan
e. Perintah diberikan secara paksa

2. Tipe Laissez Faire
Ciri-cirinya antara lain :
a. Memberi kebebasan kepada para bawahan
b. Pimpinan tidak terlibat dalam kegiatan
c. Semua pekerjaab dan tanggung jawab dilimpahkan kepada bawahan
d. Tidak mempunyai wibawa
e. Tidak ada koordinasi dan pengawasan yang baik

3. Tipe Paternalistik
Ciri-cirinya antara lain :
a. Pemimpin bertindak sebagai bapak
b. Memperlakukan bawahan sebagai orang yang belum dewasa
c. Selalu memberikan perlindungan
d. Keputusan ada ditangan pemimpin

4. Tipe Kepemimpinan
Ciri-cirinya antara lain :
a. Dalam komunikasi menggunakan saluran formal
b. Menggunakan sistem komanda/perintah
c. Segala sesuatu bersifat formal
d. Disiplin yang tinggi, kadang bersifat kaku

5. Tipe Demokratis
Ciri- cirinya antara lain :
a. Berpatisipasi aktif dalam kegiatan organisasi
b. Bersifat terbuka
c. Bawahan diberi kesempatan untuk member saran dan ide – ide baru
d. Dalam pengambilan keputusan utamakan musyawarah untuk mufakat
e. Menghargai potensi individu

6. Tipe Open Leadership
Tipe ini hampir sama dengan tipe demokratis. Perbedaannya terletak dalam hal pengambilan keputusan. Dalam tipe ini keputusan ada ditangan pemimpin.

Sumber : http://irariefmusthofa.wordpress.com/2014/01/28/teori-kepemimpinan-kasus-tou-4/

Kasus 4 : Bank Seruni

Bank Seruni Indonesia adalah bank besar di Yogyakarta. Bank ini mempunyai empat cabang yang tersebar di empat kabupaten di daerah DIY. Selama beberapa bulan, manajemen telah dan sedang mempertimbangkan suatu perubahan prosedur-prosedur evaluasi latihan. Suatu perubahan yang akan mempengaruhi baik departemen personalian maupun para manajer cabang. Rencana tersebut telah didiskusikan dengan semua orang yang akan dikenal, dan sebagian dari mereka menentang perubahan itu. Penyela latihan, Atika Nurhadi adalah salah seorang penentang yang paling keras.

Setelah diskusi dengan para pengelola bank lainnya, wakil direktur bidang personalia, Ramona Dangdut, memutuskan untuk mengimplementasikan perubahan. Dia membentuk dan menyeleksi para anggota satuan tugas khusus untuk mengimplementasikan perubahan dan mengangkat Atika sebagai kepala satuan kerja tersebut. Ketika Ramona meminta kesediaan Atika, dia menerima jabatan itu, dan kemudian berkata "Bapak tahu bahwa saya menentang perubahan ini. Mengapa bapak memilih saya sebagai pimpinan?"

Ramona menimpali "Ya, saya mengetahui ketidaksetujuan saudara. Kami memilih saudara karena kami menanggap bahwa bila ada berbagai kekurangan dalam usulan perubahan, saudara akan menemukannya. Dan kami percaya saudara dapat membetulkannya"

Pertanyaan :
1. Mengapa seorang manajer seperti Ramona memilih pemimpin oposisi untuk mengimplementasikan perubahan? Apakah saudara setuju dengan tindakan ramona tersebut ? Mengapa?
2. Berapa besar derajat kesuksesan ramona dalam pelaksanaan perubahan menurut perkiraan saudara ? Apa alasan saudara berpikir demikian ?

Jawab :
1. Dilihat dari gaya kepemimpinan Ramona yang bertipe open leadership ini, Ramona mampu melihat oposisi dari sisi lain yang lebih positif dan mampu merubah ekspetasi negatif yang dikeluarkan oposisi yang kemudian diterapkan ke suatu hal yang lebih bermanfaat atau lebih berguna bagi kelangsungan perusahaan itu sendiri. Hal ini dapat dibuktikan pada perkataan ramona saat menjawab pertanyaan atika tentang mengapa atika lah yang dipiih menjadi pemimpin. Saat itu Ramona yakin bahwa pikirian opositif yang dimiliki Atika memiliki kepekaan yang tinggi akan kekurangan-kekurangan yang ada pada program baru yang dibuat ini, sehingga mampu membaca celah kelemahan dan dapat segera diperbaiki.
Saya pribadi setuju dengan keputusan yang dibuat Ramona, karena tidak selamanya oposisi itu berarti negatif atau buruk bagi jalannya suatu organisasi ataupun suatu perusahaan. Kepekaan mereka dalam menaggapi kelemahan suatu program dapat dijadikan pelajaran untuk memperbaiki program tersebut menjadi lebih sempurna.

2. Menurut saya derajat kesuksesan Ramona adalah 50 : 50 . Saya berpikir demikian karena ini semua bergantung dari orang yang dipercaya Ramona itu sendiri, yaitu Atika. Apakah Atika mampu beradaptasi dengan suatu hal yang dulunya sangat dia segani. Selain itu juga, melihat background Atika sebagai oposisi yang paling keras, tentunya mempengaruhi loyalitas karyawan yang berada dibawah Atika yang dulunya pro dengan program ini, kesuksesan Ramona dalam memilih Atika sebagai pemimpin ini pun juga dipengaruhi dengan loyalitas para pekerjanya. Namun, saya optimis bila Atika mampu merangkul bawahannya dengan adil tanpa memandang siapa yang dulu pro maupun kontra, maka keputusan Ramona dalam memilih Atika sbagai pimpinan tidaklah sia-sia