Tampilkan postingan dengan label quote. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label quote. Tampilkan semua postingan
Kamis, 21 November 2013
Kamis, 26 September 2013
Minggu, 22 September 2013
Tuhan Sembilan Senti - Taufik Ismail
Indonesia adalah sorga luar biasa ramah bagi perokok,
tapi tempat siksa tak tertahankan bagi orang yang tak merokok,
Di sawah petani merokok,
di pabrik pekerja merokok,
di kantor pegawai merokok,
di kabinet menteri merokok,
di reses parlemen anggota DPR merokok,
di Mahkamah Agung yang bergaun toga merokok, hansip-bintara- perwira nongkrong merokok,
di perkebunan pemetik buah kopi merokok,
di perahu nelayan penjaring ikan merokok,
di pabrik petasan pemilik modalnya merokok,
di pekuburan sebelum masuk kubur orang merokok,
Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu- na’im sangat ramah bagi perokok,
tapi tempat siksa kubur hidup-hidup bagi orang yang tak merokok,
Di balik pagar SMU murid-murid mencuri-curi merokok,
di ruang kepala sekolah…ada guru merokok,
di kampus mahasiswa merokok,
di ruang kuliah dosen merokok,
di rapat POMG orang tua murid merokok,
di perpustakaan kecamatan ada siswa bertanya apakah ada buku tuntunan cara merokok,
Di angkot Kijang penumpang merokok,
di bis kota sumpek yang berdiri yang duduk orang bertanding merokok,
di loket penjualan karcis orang merokok,
di kereta api penuh sesak orang festival merokok,
di kapal penyeberangan antar pulau penumpang merokok,
di andong Yogya kusirnya merokok, sampai kabarnya kuda andong minta diajari pula merokok,
Negeri kita ini sungguh nirwana kayangan para dewa-dewa bagi perokok,
tapi tempat cobaan sangat berat bagi orang yang tak merokok,
Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru, diam-diam menguasai kita,
Di pasar orang merokok,
di warung Tegal pengunjung merokok,
di restoran, di toko buku orang merokok,
di kafe di diskotik para pengunjung merokok,
Bercakap-cakap kita jarak setengah meter tak tertahankan asap rokok,
bayangkan isteri-isteri yang bertahun-tahun menderita di kamar tidur
ketika melayani para suami yang bau mulut dan hidungnya mirip asbak rokok,
Duduk kita di tepi tempat tidur ketika dua orang bergumul saling
menularkan HIV-AIDS sesamanya,
tapi kita tidak ketularan penyakitnya.
Duduk kita disebelah orang yang dengan cueknya mengepulkan asap rokok
di kantor atau di stopan bus,
kita ketularan penyakitnya.
Nikotin lebih jahat penularannya ketimbang HIV-AIDS,
Indonesia adalah sorga kultur pengembangbiakan nikotin paling subur di dunia,
dan kita yang tak langsung menghirup sekali pun asap tembakau itu, bisa ketularan kena,
Di puskesmas pedesaan orang kampung merokok,
di apotik yang antri obat merokok,
di panti pijat tamu-tamu disilahkan merokok,
di ruang tunggu dokter pasien merokok,
dan ada juga dokter-dokter merokok,
Istirahat main tenis orang merokok,
di pinggir lapangan voli orang merokok,
menyandang raket badminton orang merokok,
pemain bola PSSI sembunyi-sembunyi merokok,
panitia pertandingan balap mobil, pertandingan bulutangkis, turnamen sepakbola
mengemis-ngemis mencium kaki sponsor perusahaan rokok,
Di kamar kecil 12 meter kubik, sambil ‘ek-’ek orang goblok merokok,
di dalam lift gedung 15 tingkat dengan tak acuh orang goblok merokok,
di ruang sidang ber-AC penuh, dengan cueknya, pakai dasi, orang-orang goblok merokok,
Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu- na’im sangat ramah bagi orang perokok,
tapi tempat siksa kubur hidup-hidup bagi orang yang tak merokok,
Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru, diam-diam menguasai kita,
Di sebuah ruang sidang ber-AC penuh, duduk sejumlah ulama terhormat
merujuk kitab kuning
dan mempersiapkan sejumlah fatwa.
Mereka ulama ahli hisap.
Haasaba, yuhaasibu, hisaaban.
Bukan ahli hisab ilmu falak,
tapi ahli hisap rokok.
Di antara jari telunjuk dan jari tengah mereka terselip berhala-berhala kecil,
sembilan senti panjangnya,
putih warnanya,
kemana-mana dibawa dengan setia,
satu kantong dengan kalung tasbih 99 butirnya,
Mengintip kita dari balik jendela ruang sidang,
tampak kebanyakan mereka memegang rokok dengan tangan kanan,
cuma sedikit yang memegang dengan tangan kiri.
Inikah gerangan pertanda yang terbanyak kelompok ashabul yamiin dan yang
sedikit golongan ashabus syimaal?
Asap rokok mereka mengepul-ngepul di ruangan AC penuh itu.
Mamnu’ut tadkhiin, ya ustadz. Laa tasyrabud dukhaan, ya ustadz.
Kyai, ini ruangan ber-AC penuh.
Haadzihi al ghurfati malii’atun bi mukayyafi al hawwa’i.
Kalau tak tahan, di luar itu sajalah merokok.
Laa taqtuluu anfusakum. Min fadhlik, ya ustadz.
25 penyakit ada dalam khamr. Khamr diharamkan.
15 penyakit ada dalam daging khinzir (babi). Daging khinzir diharamkan.
4000 zat kimia beracun ada pada sebatang rokok. Patutnya rokok diapakan?
Tak perlu dijawab sekarang, ya ustadz. Wa yuharrimu ‘alayhimul khabaaith.
Mohon ini direnungkan tenang-tenang, karena pada zaman Rasulullah dahulu,
sudah ada alkohol, sudah ada babi, tapi belum ada rokok.
Jadi ini PR untuk para ulama.
Tapi jangan karena ustadz ketagihan rokok,
lantas hukumnya jadi dimakruh-makruhkan, jangan,
Para ulama ahli hisap itu terkejut mendengar perbandingan ini.
Banyak yang diam-diam membunuh tuhan-tuhan kecil yang kepalanya berapi itu,
yaitu ujung rokok mereka.
Kini mereka berfikir. Biarkan mereka berfikir.
Asap rokok di ruangan ber-AC itu makin pengap, dan ada yang mulai
terbatuk-batuk,
Pada saat sajak ini dibacakan malam hari ini,
sejak tadi pagi sudah 120 orang di Indonesia mati karena penyakit rokok.
Korban penyakit rokok lebih dahsyat ketimbang korban kecelakaan lalu lintas,
lebih gawat ketimbang bencana banjir, gempa bumi dan longsor,
cuma setingkat di bawah korban narkoba,
Pada saat sajak ini dibacakan, berhala-berhala kecil itu sangat
berkuasa di negara kita,
jutaan jumlahnya,
bersembunyi di dalam kantong baju dan celana,
dibungkus dalam kertas berwarni dan berwarna,
diiklankan dengan indah dan cerdasnya,
Tidak perlu wudhu atau tayammum menyucikan diri,
tidak perlu ruku’ dan sujud untuk taqarrub pada tuhan-tuhan ini,
karena orang akan khusyuk dan fana dalam nikmat lewat upacara menyalakan
api dan sesajen asap tuhan-tuhan ini,
Rabbana, beri kami kekuatan menghadapi berhala-berhala ini.
Amin Yaa Rabbalalamin
tapi tempat siksa tak tertahankan bagi orang yang tak merokok,
Di sawah petani merokok,
di pabrik pekerja merokok,
di kantor pegawai merokok,
di kabinet menteri merokok,
di reses parlemen anggota DPR merokok,
di Mahkamah Agung yang bergaun toga merokok, hansip-bintara- perwira nongkrong merokok,
di perkebunan pemetik buah kopi merokok,
di perahu nelayan penjaring ikan merokok,
di pabrik petasan pemilik modalnya merokok,
di pekuburan sebelum masuk kubur orang merokok,
Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu- na’im sangat ramah bagi perokok,
tapi tempat siksa kubur hidup-hidup bagi orang yang tak merokok,
Di balik pagar SMU murid-murid mencuri-curi merokok,
di ruang kepala sekolah…ada guru merokok,
di kampus mahasiswa merokok,
di ruang kuliah dosen merokok,
di rapat POMG orang tua murid merokok,
di perpustakaan kecamatan ada siswa bertanya apakah ada buku tuntunan cara merokok,
Di angkot Kijang penumpang merokok,
di bis kota sumpek yang berdiri yang duduk orang bertanding merokok,
di loket penjualan karcis orang merokok,
di kereta api penuh sesak orang festival merokok,
di kapal penyeberangan antar pulau penumpang merokok,
di andong Yogya kusirnya merokok, sampai kabarnya kuda andong minta diajari pula merokok,
Negeri kita ini sungguh nirwana kayangan para dewa-dewa bagi perokok,
tapi tempat cobaan sangat berat bagi orang yang tak merokok,
Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru, diam-diam menguasai kita,
Di pasar orang merokok,
di warung Tegal pengunjung merokok,
di restoran, di toko buku orang merokok,
di kafe di diskotik para pengunjung merokok,
Bercakap-cakap kita jarak setengah meter tak tertahankan asap rokok,
bayangkan isteri-isteri yang bertahun-tahun menderita di kamar tidur
ketika melayani para suami yang bau mulut dan hidungnya mirip asbak rokok,
Duduk kita di tepi tempat tidur ketika dua orang bergumul saling
menularkan HIV-AIDS sesamanya,
tapi kita tidak ketularan penyakitnya.
Duduk kita disebelah orang yang dengan cueknya mengepulkan asap rokok
di kantor atau di stopan bus,
kita ketularan penyakitnya.
Nikotin lebih jahat penularannya ketimbang HIV-AIDS,
Indonesia adalah sorga kultur pengembangbiakan nikotin paling subur di dunia,
dan kita yang tak langsung menghirup sekali pun asap tembakau itu, bisa ketularan kena,
Di puskesmas pedesaan orang kampung merokok,
di apotik yang antri obat merokok,
di panti pijat tamu-tamu disilahkan merokok,
di ruang tunggu dokter pasien merokok,
dan ada juga dokter-dokter merokok,
Istirahat main tenis orang merokok,
di pinggir lapangan voli orang merokok,
menyandang raket badminton orang merokok,
pemain bola PSSI sembunyi-sembunyi merokok,
panitia pertandingan balap mobil, pertandingan bulutangkis, turnamen sepakbola
mengemis-ngemis mencium kaki sponsor perusahaan rokok,
Di kamar kecil 12 meter kubik, sambil ‘ek-’ek orang goblok merokok,
di dalam lift gedung 15 tingkat dengan tak acuh orang goblok merokok,
di ruang sidang ber-AC penuh, dengan cueknya, pakai dasi, orang-orang goblok merokok,
Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu- na’im sangat ramah bagi orang perokok,
tapi tempat siksa kubur hidup-hidup bagi orang yang tak merokok,
Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru, diam-diam menguasai kita,
Di sebuah ruang sidang ber-AC penuh, duduk sejumlah ulama terhormat
merujuk kitab kuning
dan mempersiapkan sejumlah fatwa.
Mereka ulama ahli hisap.
Haasaba, yuhaasibu, hisaaban.
Bukan ahli hisab ilmu falak,
tapi ahli hisap rokok.
Di antara jari telunjuk dan jari tengah mereka terselip berhala-berhala kecil,
sembilan senti panjangnya,
putih warnanya,
kemana-mana dibawa dengan setia,
satu kantong dengan kalung tasbih 99 butirnya,
Mengintip kita dari balik jendela ruang sidang,
tampak kebanyakan mereka memegang rokok dengan tangan kanan,
cuma sedikit yang memegang dengan tangan kiri.
Inikah gerangan pertanda yang terbanyak kelompok ashabul yamiin dan yang
sedikit golongan ashabus syimaal?
Asap rokok mereka mengepul-ngepul di ruangan AC penuh itu.
Mamnu’ut tadkhiin, ya ustadz. Laa tasyrabud dukhaan, ya ustadz.
Kyai, ini ruangan ber-AC penuh.
Haadzihi al ghurfati malii’atun bi mukayyafi al hawwa’i.
Kalau tak tahan, di luar itu sajalah merokok.
Laa taqtuluu anfusakum. Min fadhlik, ya ustadz.
25 penyakit ada dalam khamr. Khamr diharamkan.
15 penyakit ada dalam daging khinzir (babi). Daging khinzir diharamkan.
4000 zat kimia beracun ada pada sebatang rokok. Patutnya rokok diapakan?
Tak perlu dijawab sekarang, ya ustadz. Wa yuharrimu ‘alayhimul khabaaith.
Mohon ini direnungkan tenang-tenang, karena pada zaman Rasulullah dahulu,
sudah ada alkohol, sudah ada babi, tapi belum ada rokok.
Jadi ini PR untuk para ulama.
Tapi jangan karena ustadz ketagihan rokok,
lantas hukumnya jadi dimakruh-makruhkan, jangan,
Para ulama ahli hisap itu terkejut mendengar perbandingan ini.
Banyak yang diam-diam membunuh tuhan-tuhan kecil yang kepalanya berapi itu,
yaitu ujung rokok mereka.
Kini mereka berfikir. Biarkan mereka berfikir.
Asap rokok di ruangan ber-AC itu makin pengap, dan ada yang mulai
terbatuk-batuk,
Pada saat sajak ini dibacakan malam hari ini,
sejak tadi pagi sudah 120 orang di Indonesia mati karena penyakit rokok.
Korban penyakit rokok lebih dahsyat ketimbang korban kecelakaan lalu lintas,
lebih gawat ketimbang bencana banjir, gempa bumi dan longsor,
cuma setingkat di bawah korban narkoba,
Pada saat sajak ini dibacakan, berhala-berhala kecil itu sangat
berkuasa di negara kita,
jutaan jumlahnya,
bersembunyi di dalam kantong baju dan celana,
dibungkus dalam kertas berwarni dan berwarna,
diiklankan dengan indah dan cerdasnya,
Tidak perlu wudhu atau tayammum menyucikan diri,
tidak perlu ruku’ dan sujud untuk taqarrub pada tuhan-tuhan ini,
karena orang akan khusyuk dan fana dalam nikmat lewat upacara menyalakan
api dan sesajen asap tuhan-tuhan ini,
Rabbana, beri kami kekuatan menghadapi berhala-berhala ini.
Amin Yaa Rabbalalamin
http://bugikamara.wordpress.com/2011/12/27/teringat-puisi-taufik-ismail-tuhan-sembilan-senti-world-free-cigarette/
Mempertajam status 'mahasiswa' saya
Mempertajam status 'mahasiswa' saya.
Saya sadar bahwa mahasiswa itu tidak hanya bertindak di dalam kampus,
tidak hanya bertindak untuk diri sendiri,
tetapi bertindak untuk masyarakat,
di lingkungan masyarakat.
Maha siswa , maha-nya para siswa
Selasa, 15 Januari 2013
when the truth become an ugly truth
Sepertinya saat ini istilah " USAHA = HASIL " mulai diragukan, padahal duluuu, di tempat yang berbedaa, semua orang menyerukan kata-kata itu sebagai kata-kata motivasi. Sepertinya istilah " si bodoh vs si pintar " saat ini lebih populer dan dijadikan motivasi buat mereka, padahal jelas-jelas itu sesat.
Dimana-mana, dari jaman dulu juga, dari jamannya kita perang lawan belanda juga, kita diajarin kalau mau sukses, kalau mau berhasil ya harus berusaha. Tapi usahanya juga jangan melenceng, kalau usahanya melenceng apa bedanya sama korupsi ?
Pesan pertama : Hati-hati sama cerita motivasi yang bisa jadi malah bikin kita tersesat, terkadang berpikiran ortodoks itu lebih masuk akal dibanding pikiran fleksibel yang melenceng.
Pesan kedua : Pantesan saat ini marak kasus korupsi, wong mereka dari jaman sekolah juga udah diajarin korupsi sama lingkungannya, contohnyaaaa ?? Bisa anda simpulkan sendiri!
Dimana-mana, dari jaman dulu juga, dari jamannya kita perang lawan belanda juga, kita diajarin kalau mau sukses, kalau mau berhasil ya harus berusaha. Tapi usahanya juga jangan melenceng, kalau usahanya melenceng apa bedanya sama korupsi ?
Pesan pertama : Hati-hati sama cerita motivasi yang bisa jadi malah bikin kita tersesat, terkadang berpikiran ortodoks itu lebih masuk akal dibanding pikiran fleksibel yang melenceng.
Pesan kedua : Pantesan saat ini marak kasus korupsi, wong mereka dari jaman sekolah juga udah diajarin korupsi sama lingkungannya, contohnyaaaa ?? Bisa anda simpulkan sendiri!
Jumat, 11 Januari 2013
Learn from the eldest
Just for sharing...
Learned not only from school, but sometimes we could have a learned things in an unexpectable time. Like three story which I want to tell now, and there are a true story which heppened by me.
Cerita pertama :
Ini cerita gue waktu SMA kelas XII, seperti biasa kalo jam pulang sekolah suka pada ke bu goceng ( restoran depan smansa ) buat ngisi perut lagi. Gue dan temen-temen gue lagi duduk-duduk nungguin pesenan kita. Sembari duduk-duduk gue sama temen-temen cerita tentang kehidupan-kehidupan yang enak-enak, tentang gadget lah, tempat-tempat liburan, khayalan-khayalan tinggi lah. Nah beberapa saat kemudian dateng orang bertopi yang nawarin pulpen, dan yang gue lakuin adalah ....
Gue ga liat muka orang itu dan langsung nolak dia, karea apaa ? Karena buat apa beli pulpen lagi, secara tempat pensil gue udah kaya intermedia. Dan gue akuin itu adalah hal terbodoh selama hidup gue..
Reaksi temen-temen gue pas itu , ada yang merhatiin, ada yang mikir daaaan... beberapa detik kemudian... dua orang temen gue nyamperin orang itu. Dan dengan begonya gue masih diem aja dan cuma merhatiin, orang itu pun melepas topinya, daaaan..... saat itu juga hati gue kaya ditusuk-tusuk, mata gue kaya mau meledak air mata, gue merasa jadi orang paling acuh di dunia.
Jadi tuuuh, yang tadi nawarin pensil itu bapak-bapak udah tuaaaaa banget ( kita sebut saja aki-aki ), jadi aki-aki itu cuma bawa dua pack pulpen. Aki-aki itu jalan kaki buat nawarin pulpen ke anak-anak sekolah, buat apa ? Buat dia beli makan, buat dia bisa bertahan hidup, buat dia bisa bertahan lebih lama ngeliat dunia yang selama ini sering kali acuhin dia. Dan yang gue salutnya lagi, kan banyak tuh gue liat aki-aki yang mengemis di jalan, nah kalo ini tuh aki-aki nya hebat, dia gak mau minta-minta, dia juga gak bergantung sama orang lain, walaupun umurnya udah tua, dia masih mau berusaha kerja, seperti berjualan pulpen ini,
Memang sepele rasanya, hanya jualan pulpen, pulpen yang setiap hari ada di kehidupan kita, yang kalo ilang bisa kita langsung beli lagi, tapi buat orang lain? pulpen bisa jadi hidup mereka, dan yang dengan bodohnya gue acuhin itu semua.
Gak beberapa lama saat kejadian itu, gue sama temen-temen gue ngeborong pulpen itu, dengan harapan uang hasil jualan pulpen ai-aki tadi bisa bermanfaat buat aki-aki itu.
Cerita kedua :
Ini cerita saat gue udah duduk di bangku kuliah, jadi kan gue sama temen-temen sekelas lagi nunggu dosen selanjutnya buat masuk. Karena lumayan lama, kami melihat-lihatlah keadaan di luar kelas. Dan waktu gue sama temen gue liat keluar, gue liat ada dosen udah tuaaaaaaaaa, rambutnya ubanan, pake kemeja, bawa tas lumayan berat dan gue rasa itu berat, dan dosen itu senderan di tembok dengan tatapan sayu menatap ke depan kelas. Gue dan temen gue pun jadi terharu ngeliatnya, lalu gue masuk lagi ke dalam kelas.
Sekitar 15 menit kemudian dosen gue belom dateng juga, dan gue celingukan lagi keluar kelas, dan lo tauuuu ???? Dosen itu masih disituuuu, masih beridiri disituuu, masih senderan disituuuu, ga pindah tempat sama sekali, gue liat dua mulai mainin kakinya karena pegel. Dan saat itu juga mata gue merah, kepala gue langsung panas, gue ga tahan ngeliatnya, ga tegaaa, kasiaaan, terharuuu, saluuut, penasaraaan. Lho kok penasaran ? Ya iyalaaah penasaran, gue pengen tau kenapa dosen itu dari tadi gak masuk kelas dia.
Akhirnya gue dan temen gue memberanikan diri lewat depan dosen itu dan liat kelas yang dari tadi diliatin sama dia. Pas gue liat kelasnya, yaa emang sih masih ada dosen, tapi gak lama kemudian dosennya keluar. Gue dan temen gue pun lega ngeliatnya, kan kalo dosen di dalem kelas berarti dosen tua ini bisa langsug ngajar dan duduk di kursi. Tapi mendadak rasa lega itu ilang, dan berubah jadi perasaan jijik dan kesel. Bukan sama dosennya, tapi sama mahasiswanya. Tau kenapa ???????
Jadi pas dosen di dalem itu keluar, setengah dari mahasiswanya CABUT!! CABUT saudara-saudara. Dan ini cabutnya di depan mata dosen tua yang dari tadi udah nungguin sampe pegel-pegel itu sendiri. Ya Allaaaah, sumpaaaah! Itu mahasiswa pada gak punya hati apa, minimal punyaotak laaah. Sama sekali gak ada ngehargainnya sama sekali.
Dosen tua pun masuk ke dalam kelas dan duduk, gue sama temen gue ngintipin kelasnya, cuma ada kurang lebih 25 orangan gitu sih, parah banget kan. Dan gak lama kemudian, ada seorang mahasiswa, gendut, item, cowo, bawa rokok di tangannya, dia ngintip gitu dari depan pintu, dan bukannya masuk. Setelah ngintip dia malah CABUT !!! Sumpaaaaaah, saat itu juga gue sama temen gue ini langsung sumpah serapahin mahasiswa yang cabut tadi.
Gue salut banget sama dosen ini, biarpun udah tua dia masih on time, masih berudaha nunggu buat ngasih pelajaran, buat ngash ilmu ke mahasiswa dengan harapan mahasiswa bisa jadi tombak majunya bangsa, walaupun pada akhirnya dia di khianati sama harapannya sendiri. Ya itu, dengan mahasiswa-mahasiswa yang cabut itu, mereka bener-bener gak tau terima kasih, mereka ga tau apa kalo bikin guru sakit hati itu juga bisa berimbas buat merekanya sendiri.
Ini adalah quote dari teen gue dari twitter :
#Sebuah quote yang awalnya gak gue ngerti karena kata-kata 'mereka' nya itu ga tau tertuju ke siapa, tapi akhirnya gue ngerti. Bagus banget nih quote, kita bakalan ngerti sendiri quote ini kalo kita udah jadi rang yang punya pemikiran yang dewasa.
Cerita ketiga :
Cerita ini terjadi hari ini, tanggal 11-Januari-2013, disaat gue jemput nyokap gue pulang kerja di simpangan depok. Jadi tuh gue nungguin nyokap gue di depan alfamart simpangan, ternyata nyokap gue belom dateng. Akhirnya gue celingak celingukan liat ke sekelilin gue, ada yang lagi nungguin orang juga, ada yang lagi jualan sesuatu, dan ada yang belinya jugaa, ada yang lalu lalang mobil dan motor, daan tiba-tiba mata gue tertuju pada aki-aki yang duduk sekitar dua meter dari motor gue.
Aki-aki itu lagi jualan rambutan, gue liat rambutannya masih banyak, ada sekitar 1,5 kranjang lagi, dan ini udah jam 8 malam, gue mikir siapa lagi yang mau beli malem-malem gini. Aki-aki itu ketiduran gitu, kayanya dia kecapean deh ngejajakin rambutannya.
Gue nungguin nyokap gue kan lumayan lama tuh, dan selama itu juga gak ada orang yang sama sekali beli rambutan itu, bahkan ngeliat pun gak ada. Coba ? Gimana ga tambah iba coba.
Dan lagi-lagi ini adalah kondisi yang mengharukan, dan untuk kesekian kalinya lagi gue salut sama aki-aki. Sama seperti cerita pertama, aki-aki ini tuh gak bergantung dengan orang lain, dia masih berusaha untuk bertahan hidup denga usahanya sendiri dengan berjualan apapun. Dan ini bisa jadi motivasi buat gue pribadi sebagai anak muda, untuk gak pernah berhenti berusaha walaupun digerogoti umur.
There are three stories that I had been looked by myself, emang sih selama ini kita sering kali menyepelekan umur yang tua. Dan dari cerita ini bisa menjebol pikiran kita yang masih kolot seperti itu. Semoga cerita ini bermanfaat.
Learned not only from school, but sometimes we could have a learned things in an unexpectable time. Like three story which I want to tell now, and there are a true story which heppened by me.
Cerita pertama :
Ini cerita gue waktu SMA kelas XII, seperti biasa kalo jam pulang sekolah suka pada ke bu goceng ( restoran depan smansa ) buat ngisi perut lagi. Gue dan temen-temen gue lagi duduk-duduk nungguin pesenan kita. Sembari duduk-duduk gue sama temen-temen cerita tentang kehidupan-kehidupan yang enak-enak, tentang gadget lah, tempat-tempat liburan, khayalan-khayalan tinggi lah. Nah beberapa saat kemudian dateng orang bertopi yang nawarin pulpen, dan yang gue lakuin adalah ....
Gue ga liat muka orang itu dan langsung nolak dia, karea apaa ? Karena buat apa beli pulpen lagi, secara tempat pensil gue udah kaya intermedia. Dan gue akuin itu adalah hal terbodoh selama hidup gue..
Reaksi temen-temen gue pas itu , ada yang merhatiin, ada yang mikir daaaan... beberapa detik kemudian... dua orang temen gue nyamperin orang itu. Dan dengan begonya gue masih diem aja dan cuma merhatiin, orang itu pun melepas topinya, daaaan..... saat itu juga hati gue kaya ditusuk-tusuk, mata gue kaya mau meledak air mata, gue merasa jadi orang paling acuh di dunia.
Jadi tuuuh, yang tadi nawarin pensil itu bapak-bapak udah tuaaaaa banget ( kita sebut saja aki-aki ), jadi aki-aki itu cuma bawa dua pack pulpen. Aki-aki itu jalan kaki buat nawarin pulpen ke anak-anak sekolah, buat apa ? Buat dia beli makan, buat dia bisa bertahan hidup, buat dia bisa bertahan lebih lama ngeliat dunia yang selama ini sering kali acuhin dia. Dan yang gue salutnya lagi, kan banyak tuh gue liat aki-aki yang mengemis di jalan, nah kalo ini tuh aki-aki nya hebat, dia gak mau minta-minta, dia juga gak bergantung sama orang lain, walaupun umurnya udah tua, dia masih mau berusaha kerja, seperti berjualan pulpen ini,
Memang sepele rasanya, hanya jualan pulpen, pulpen yang setiap hari ada di kehidupan kita, yang kalo ilang bisa kita langsung beli lagi, tapi buat orang lain? pulpen bisa jadi hidup mereka, dan yang dengan bodohnya gue acuhin itu semua.
Gak beberapa lama saat kejadian itu, gue sama temen-temen gue ngeborong pulpen itu, dengan harapan uang hasil jualan pulpen ai-aki tadi bisa bermanfaat buat aki-aki itu.
Cerita kedua :
Ini cerita saat gue udah duduk di bangku kuliah, jadi kan gue sama temen-temen sekelas lagi nunggu dosen selanjutnya buat masuk. Karena lumayan lama, kami melihat-lihatlah keadaan di luar kelas. Dan waktu gue sama temen gue liat keluar, gue liat ada dosen udah tuaaaaaaaaa, rambutnya ubanan, pake kemeja, bawa tas lumayan berat dan gue rasa itu berat, dan dosen itu senderan di tembok dengan tatapan sayu menatap ke depan kelas. Gue dan temen gue pun jadi terharu ngeliatnya, lalu gue masuk lagi ke dalam kelas.
Sekitar 15 menit kemudian dosen gue belom dateng juga, dan gue celingukan lagi keluar kelas, dan lo tauuuu ???? Dosen itu masih disituuuu, masih beridiri disituuu, masih senderan disituuuu, ga pindah tempat sama sekali, gue liat dua mulai mainin kakinya karena pegel. Dan saat itu juga mata gue merah, kepala gue langsung panas, gue ga tahan ngeliatnya, ga tegaaa, kasiaaan, terharuuu, saluuut, penasaraaan. Lho kok penasaran ? Ya iyalaaah penasaran, gue pengen tau kenapa dosen itu dari tadi gak masuk kelas dia.
Akhirnya gue dan temen gue memberanikan diri lewat depan dosen itu dan liat kelas yang dari tadi diliatin sama dia. Pas gue liat kelasnya, yaa emang sih masih ada dosen, tapi gak lama kemudian dosennya keluar. Gue dan temen gue pun lega ngeliatnya, kan kalo dosen di dalem kelas berarti dosen tua ini bisa langsug ngajar dan duduk di kursi. Tapi mendadak rasa lega itu ilang, dan berubah jadi perasaan jijik dan kesel. Bukan sama dosennya, tapi sama mahasiswanya. Tau kenapa ???????
Jadi pas dosen di dalem itu keluar, setengah dari mahasiswanya CABUT!! CABUT saudara-saudara. Dan ini cabutnya di depan mata dosen tua yang dari tadi udah nungguin sampe pegel-pegel itu sendiri. Ya Allaaaah, sumpaaaah! Itu mahasiswa pada gak punya hati apa, minimal punyaotak laaah. Sama sekali gak ada ngehargainnya sama sekali.
Dosen tua pun masuk ke dalam kelas dan duduk, gue sama temen gue ngintipin kelasnya, cuma ada kurang lebih 25 orangan gitu sih, parah banget kan. Dan gak lama kemudian, ada seorang mahasiswa, gendut, item, cowo, bawa rokok di tangannya, dia ngintip gitu dari depan pintu, dan bukannya masuk. Setelah ngintip dia malah CABUT !!! Sumpaaaaaah, saat itu juga gue sama temen gue ini langsung sumpah serapahin mahasiswa yang cabut tadi.
Gue salut banget sama dosen ini, biarpun udah tua dia masih on time, masih berudaha nunggu buat ngasih pelajaran, buat ngash ilmu ke mahasiswa dengan harapan mahasiswa bisa jadi tombak majunya bangsa, walaupun pada akhirnya dia di khianati sama harapannya sendiri. Ya itu, dengan mahasiswa-mahasiswa yang cabut itu, mereka bener-bener gak tau terima kasih, mereka ga tau apa kalo bikin guru sakit hati itu juga bisa berimbas buat merekanya sendiri.
Ini adalah quote dari teen gue dari twitter :
" Terkadang mereka itu memang dibenci, tapi mereka tidak tahu bahwa yang sebenarnya yang mereka benci adalah pembawa kesuksesan untuk diri mereka sendiri "
#Sebuah quote yang awalnya gak gue ngerti karena kata-kata 'mereka' nya itu ga tau tertuju ke siapa, tapi akhirnya gue ngerti. Bagus banget nih quote, kita bakalan ngerti sendiri quote ini kalo kita udah jadi rang yang punya pemikiran yang dewasa.
Cerita ketiga :
Cerita ini terjadi hari ini, tanggal 11-Januari-2013, disaat gue jemput nyokap gue pulang kerja di simpangan depok. Jadi tuh gue nungguin nyokap gue di depan alfamart simpangan, ternyata nyokap gue belom dateng. Akhirnya gue celingak celingukan liat ke sekelilin gue, ada yang lagi nungguin orang juga, ada yang lagi jualan sesuatu, dan ada yang belinya jugaa, ada yang lalu lalang mobil dan motor, daan tiba-tiba mata gue tertuju pada aki-aki yang duduk sekitar dua meter dari motor gue.
Aki-aki itu lagi jualan rambutan, gue liat rambutannya masih banyak, ada sekitar 1,5 kranjang lagi, dan ini udah jam 8 malam, gue mikir siapa lagi yang mau beli malem-malem gini. Aki-aki itu ketiduran gitu, kayanya dia kecapean deh ngejajakin rambutannya.
Gue nungguin nyokap gue kan lumayan lama tuh, dan selama itu juga gak ada orang yang sama sekali beli rambutan itu, bahkan ngeliat pun gak ada. Coba ? Gimana ga tambah iba coba.
Dan lagi-lagi ini adalah kondisi yang mengharukan, dan untuk kesekian kalinya lagi gue salut sama aki-aki. Sama seperti cerita pertama, aki-aki ini tuh gak bergantung dengan orang lain, dia masih berusaha untuk bertahan hidup denga usahanya sendiri dengan berjualan apapun. Dan ini bisa jadi motivasi buat gue pribadi sebagai anak muda, untuk gak pernah berhenti berusaha walaupun digerogoti umur.
There are three stories that I had been looked by myself, emang sih selama ini kita sering kali menyepelekan umur yang tua. Dan dari cerita ini bisa menjebol pikiran kita yang masih kolot seperti itu. Semoga cerita ini bermanfaat.
Kamis, 13 Desember 2012
Kamis, 27 September 2012
Try Hard
I'll try hard to understand
what these foreign situations
and also try to make these all
to be ordinary.
Langganan:
Postingan (Atom)



