Minggu, 25 November 2012

#2 : Pemuda dan Sosialisasi

KETERBATASAN MEMBAWA PRESTASI



REPUBLIKA.CO.ID, NOTTINGHAM -- Matahari tak lagi bersembunyi dibalik awan-awan mendung Kota Nottingham, Inggris ketika sepuluh orang remaja inspiratif dari beberapa negara itu bersiap menerima secara estafet obor Olimpiade 2012, Kamis (28/06). Padahal beberapa jam sebelumnya, kota tempat lahirnya kisah Robin Hood itu diguyur hujan deras.

Kesepuluh remaja itu merupakan bagian dari program International Inspiration hasil kerjasama UNICEF dan The British Council. Diantara remaja-remaja aktif tersebut tampak sosok Stephanie Handoyo, atlet renang yang sangat berprestasi di kancah pertandingan Special Olympic. Suatu perhelatan olahraga tingkat dunia yang mempertandingkan atlet-atlet penyandang tunagrahita.

"Stephanie terpilih karena dia mampu menginspirasi remaja-remaja yang lain," ujar Ketua Special Olympic Indonesia (SOIna), Pudji Hastuti yang ikut mendampingi sang atlet dan keluarganya ke Inggris.

Inspirasi yang diberikan oleh adalah melalui prestasinya. Pada Special Olympic di Athena tahun 2011 silam, dia mampu menyumbangkan emas pertama bagi tim renang Indonesia. Hal ini tentunya mampu membakar semangat atlet-atlet yang lain. Selain itu, kemahiran Stephanie dalam bermain piano juga pernah dicatat oleh Museum Rekor Indonesia (MURI) untuk permainan pianonya selama 22 jam tanpa berhenti.

Menurut Pudji, meskipun dengan keterbatasan yang dimiliki oleh Stephanie, tetapi remaja tersebut justru mampu memberikan yang terbaik untuk negaranya. "Sebenarnya kalan anak-anak seperti itu diberi kesempatan, mereka juga bisa berprestasi," katanya.

Sore itu, wajah Stephanie tampak bergembira dan penuh semangat. Senyum selalu tersungging di wajahnya ketika para penonton estafet obor Olimpiade itu hendak berfoto. Sesekali dia juga ikut berterik, saling memberi semangat diantara remaja-remaja yang datang dari negara-negara lain itu. Sorakan penonton yang sudah tidak sabar menunggu obor itu datang semakin riuh ketika dari kejauhan obor emas itu sudah mulai mendekat.

Serentak sepuluh orang remaja inspiratif itu berbaris, siap untuk mulai berlari. Stephanie berada di urutan ketujuh untuk memegang obor Olimpiade dan berlari sepanjang 150 meter.

Diiringi dengan tepuk tangan dan teriakan semangat akhirnya mereka mulai berlari. Diantara kerumunan penonton itu, tampak anggota keluarga Stephanie, kordinator pelatihnya, dan Ketua SOIna ikut berlari mengiringi. Meski harus menembus ratusan penonton, mereka tetap fokus mengambil gambar dan memberikan semangat pada Stephanie. Hingga sampailah pada saat yang ditunggu-tunggu, ketika Stephanie memegang obor tersebut, sang kakak dengan penuh semangat berusaha mengambil foto, begitu pula sang ayah yang selalu menyorotkan handycamnya.

Berlari membawa obor ini bukan hal yang mudah. Menurut Kordinator Pelatih SOIna, Mustara Musa, mengaku harus menyiapkan fisik dan mental Stephanie sejak 3 bulan yang lalu. "Berenang dan berlari itu memiliki sistem kerja otot yang berbeda, jadi Stephanie harus bisa disulap dari perenang menjadi pelari," ujarnya.

Selain itu, dari sisi mental, perlu sentuhan khusus untuk bisa membentuk atlet tunagrahita. Kepercayaan, motivasi yang terukur, dan simulasi banyak dilakukan untuk melatih mental Stephanie. Persiapan itu tampaknya berbuah manis, karena Stephanie tampak percaya diri berlari bersama teman-temannya sesama remaja inspiratif.

Teriakan semangat untuk Stephanie tidak hanya datang dari keluarga, akan tetapi Duta Besar Indonesia untuk Inggris Raya dan Irlandia Utara, TM Hamzah Thayeb, beserta beberapa pejabat internal Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) juga ikut memberikan semangat. Bahkan beberapa dari mereka ikut berlari mengiringi Stephanie.

"Kami bangga, hari ini yang berlari itu bukan hanya Stephanie saja tetapi juga bangsa Indonesia," kata Hamzah.

Rasa bangga tidak hanya datang dari Duta Besar, akan tetapi para mahasiswa yang sedang bersekolah di Nottingham ataupun wilayah lain di Inggris, juga ikut bangga dengan hadirnya Stephanie mewakili Indonesia membawa obor Olimpiade. "Semoga hari ini menjadi inspirasi bagi atlet-atlet lain untuk bisa lebih berprestasi dan kembali diperhitungkan dalam tim pembawa obor Olimpiade selanjutnya," kata Ketua Perhimpunan Pelajar Indonesia United Kingdom (PPI UK), Miftachudin Arjuna.

----------------------------------------------------------------------------------------------------------

Tanggapan :
Banyak orang yang langsung putus asa karena memiliki keterbatasan, banyak orang juga berfikir bahwa memiliki keterbatasan sama saja tidak punya kesempatan untuk hidup. Karena itu banyak dari mereka akhirnya bunuh diri untuk mengakhiri semuanya. Namun tidak untuk Stephanie Handoyo, walaupun memiliki keterbatasan, dia mampu menepis jauh-jauh rasa putus asa dan rendah diri itu, dia justru membuktikan kepada dunia dan membuka mata semua orang bahwa orang yang memiliki keterbatasan pun dapat berprestasi.

Bukan hanya berprestasi karena ikut membawa obor olimpiade 2012 di London, tetapi Stephanie ini juga mahir dalam memainkan piano. Tentu saja Stephanie ini bisa menjadi inspirasi seluruh remaja di Indonesia bahkan di dunia bahwa keterbatasan bukanlah akhir dali segalanya, selain itu juga dia mengajarkan kita untuk memanfaatkan waktu muda kita untuk menambah prestasi dan mengharumkan nama baik Indonesia.

Sumber :
http://www.republika.co.id/berita/jurnalisme-warga/kabar/12/06/29/m6diz2-stephanie-handoyo-wakili-indonesia-bawa-obor-olimpiade-london

Tidak ada komentar:

Posting Komentar