Kamis, 27 Juni 2013

Kenyataan BBM di Indonesia




Dunia semakin maju, teknologi berkembang pesat, tingkat kebutuhan transportasi meningkat, pembelian kendaraan bermotor meningkat, daya konsumtif masayarakan di Indonesia pun ikut meningkat. Efek domino ini tidak dapat lagi kita hindari saat ini, apalagi dengan meningkatnya jumlah penduduk di Indonesia, tentunya tingkat kebutuhan akan kebutuhan primer akan sangat meningkat.

Kendaraan yang dulu merupakan bagian dari kebutuhan tersier, saat ini naik kelas ke kebutuhan primer. Tidak sulit menemukan keluarga dengan kendaraan lebih dari satu di Indonesia, khususnya Jakarta. Jumlah kendaraan di Indonesia yang terus meningkat tiap tahunnya, dikhawatirkan akan berpengaruh selain pada tingginya tingkat polusi, juga berpengaruh pada menipisnya ketersediaan bahan bakar minyak di Indonesia.

Bahan Bakar Minyak
BBM atau Bahan Bakar Minyak termasuk kepada Energi yang tidak bisa diperbaharui. Energi ini berasal dari fosil . Apa itu fosil? Fosil adalah sisa-sisa atau bekas-bekas makhluk hidup yang terawetkan secara alamiah menjadi batu atau mineral. Dan waktu yang diperlukan untuk fosilisasi berkisar ribuan tahun lamanya. Maka dari itu disebutlah sebagai energi yang tidak bisa diperbaharui, artinya bahan-bahan ini semakin lama akan semakin habis. Dan akan membutuhkan waktu yang sangat lama kembali untuk mendapatkan apa yang sudah menjadi ketergantungan kita sekarang ini.

Mengapa bahan-bahan seperti minyak bumi, gas, bisa menghasilkan energi? Karena sumber energi terbesar adalah cahaya matahari. Fosil-fosil yang menjadi minyak bumi maupun gas alam, terendap di dalam tanah. Sinar matahari masuk ke dalam tanah, sehingga fosil-fosil itu terurai menjadi molekul-molekul yang kecil dan menjadikannya sebagai mineral. Tidak hanya itu, nasi yang sehari-hari kita makan, itu juga mengandung energi. Dari mana energi itu berasal? Dari matahari yang kemudian oleh padi diserap dan diubah menjadi energi yang terkandung di dalam beras itu sendiri, ini yang dinamakan konversi (perubahan bentuk energi). Begitu juga dengan minyak bumi. Mereka hanya berbentuk cairan yang karena ada sinar matahari yang terserap ke dalam tanah, menjadikannya memiliki kandungan energi yang bisa digunakan dalam berbagai hal.

Bahan Bakar Minyak di Indonesia saat ini
Dahulu, Indonesia adalah salah satu negara penyuplai minyak bumi terbesar, dan Indonesia termasuk ke dalam anggota penghasil minyak. Seperti Amerika dkk. Sekarang, Indonesia sudah tidak menjadi salah satu anggota dari penghasil minyak? Mengapa? Karena minyak bumi di sini tinggal sedikit, sedangkan pertumbuhan penduduk semakin tinggi.

Menurut data yang dilansir Pertamina saat melakukan talkshow di salah satu Universitas di Depok, ketersediaan minyak bumi di Indonesia saat ini sudah menipis, apabila dapat diperkirakan dalam hitungan tahun, maka hanya akan mampu menyediakan minyak bumi dalam kurun waktu 15 tahun. Waktu 15 tahun ini belum dihitung apabila terjadi lonjakan penduduk tiba-tiba di Indonesia, jadi apabila dihitung-hitung dengan lonjakan tersebut kurang lebih dalam waktu 12 tahun persedian minyak di Indonesia akan habis. Dan setelah 12 tahun persediaan minyak itu habis, maka Indonesia akan menjadi negara pengimpor minyak murni dunia. Negara yang tidak dapat memproduksi minyak murni lagi, dan tentunya ini akan berdampak dengan tingginya harga BBM, karena Indonesia mau tak mau harus mengimpor dan mengikuti harga pasar minyak di dunia. Ini alasan mengapa terjadi kelangkaan BBM, harganya pun bahkan melambung tinggi. Apa penyebabnya? Penyebab terbesar adalah karena kita terlalu tergantung kepada bahan bakar yang berasal dari fosil. Seperti yang telah saya katakan bahwa yang namanya fosil itu terbentuk dengan jangka waktu yang tidak singkat.  Tentunya kenaikan harga BBM besar-besaran itu seperti menampar wajah masyarakat Indonesia yang sampai saat ini belum merata kesejahteraannya.

Negatif Positif kenaikan BBM
Kenaikan bahan bakar minyak akan sangat berpengaruh terhadap kehidupan masyarakat di Indonesia dalam segala aspek. Salah satunya adalah naiknya harga kebutuhan, hal ini terjadi dengan alasan dengan naiknya harga BBM, biaya transportasi dalam pendistribusian barang pun meningkat, karena itulah harga barang kebutuhan naik. Selain dari naiknya harga kebutuhan, kenaikan BBM juga berpengaruh pada daya beli masyarakat dalam memenuhi kebutuhan sehari-harinya, mungkin bagi masyarakat yang kerja di kantoran, kenaikan BBM bukanlah menjadi masalah besar karena mendapatkan kenaikan tunjangan dari perusahaannya, tetapi bagaimana dengan nasib masyarakat yang penghasilanya dibawah rata-rata ? Bagaimana cara mereka mengimbangi pendapatan yang mereka dapatkan dengan kenaikan harga BBM ? Sedangkan mereka tidak mendapatkan tunjangan penghasilan.

Saya menyambut positif untuk sementara niat baik pemerintah dengan memberikan BLSM sebagai tunjangan bagi 'mereka' yang penghasilannya dibawah rata. Dana ini dapat membantu mereka agar mampu mengimbangi harga kenaikan BBM, namun pada kenyataannya pemberian BLSM ini tidak dapat dimanfaatkan dengan baik oleh masyarakat Indonesia. Dana yang tadinya dibelikan untuk mengimbangi harga kenaikan BBM, malahan dibelikan barang-barang yang tidak terlalu penting, bahkan dana itu dapat habis dalam waktu sehari saja. Ya, memang sikap konsumtif masyarakat Indonesia sudah tertanam di jiwa masing-masing. Tetapi hal ini justru dikhawatirkan akan berdampak pada tingkat kemalasan masyarakat, yang hanya mengandalkan dana bantuan seperti ini.

Seharusnya, dana BLSM ini tidaklah menjadi bantuan utama bagi masyarakat Indonesia, tetapi yang seharusnya menjadi bantuan utama adalah subsidi BBM yang sekarang sudah dipangkas dapat dialihkan untuk membangun lapangan kerja untuk orang Indonesia, bukan orang asing, dan tidak hanya di Pulau Jawa tapi merata di seluruh wilayah Indonesia.

Selain dampak negatif dari kenaikan harga BBM, terdapat dampak positifnya. Subsidi BBM yang sebeumnya salah sasaran diharapkan mampu sampai kepada sasaran yang benar, yaitu masyarakat bawah. Subsidi yang dialihkan ini akan digunakan untuk meningkatkan fasilitas pendidikan dan kesehatan di daerah-daerah terpencil, masyarakat yang sehat dan pintar tentu akan mampu untuk bekerja lebih produktif, sehingga mampu mengurangi angka pengangguran di Indonesia. Selain itu, dengan menaikan harga BBM maka diharapkan masyarakat mampu mengurangi kekonsumtifannya dalam menggunakan kendaraan bermotor, sehingga pengguna kendaraan bermotor pribadi beralih ke kendaraan bermotor publik. Karena jumlah kendaraan bermotor pribadi berkurang, maka penggunaan BBM berkurang. Karena penggunaan BBM berkurang, maka ketersediaan cadangan minyak bumi di Indonesia menjadi banyak dan mampu untuk anak cucu kita di masa depan. Tidak masalah, kan? Bila kita sama-sama bersusah-susah dulu, demi kelangsungan hidup anak cucu kita di masa depan

Tentunya semua masyarakat Indonesia mengaharapkan kebijakan-kebijakan yang pro rakyat dari pemerintah. Mengharapkan pemerintahan yang mampu menyejahterakan masyarakat Indonesia, pemerintahan yang bersih dan sehat, serta pemerintahan yang mampu memegang amanat rakyat. Bila kenaikan BBM ini merupakan salah satu niat baik pemerintah untuk menyejahterakan rakyat, maka kita sebagai rakyat baiknya mendukung dan terus memantau kinerja pemerintah, sehingga jangan sampai subsidi yang sebelumnya salah sasaran malah jadi tambah salah sasaran alias dipakai pejabat-pejabat nakal alias korupsi.



Sumber :
http://green.kompasiana.com/polusi/2010/12/06/kelangkaan-bbm-324160.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar